Beranda Nusantara BKSDA Sumbar melepasliarkan empat kukang ke Cagar Alam Maninjau.

BKSDA Sumbar melepasliarkan empat kukang ke Cagar Alam Maninjau.

Lubukbasung, Sumatera Barat (ANTARA) –

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat melepasliarkan empat jenis kukang (Nycticebus coucang) yang dilindungi di kawasan hutan Cagar Alam Maninjau, Kabupaten Agam.
Kepala BKSDA Sumbar Ardi Andono di Lubukbasung, Selasa, mengatakan empat kukang terdiri dari tiga barang bukti tindak pidana perdagangan hewan dan satu kukang diserahkan warga Lubukbasung, Agam.

Pelepasan tersebut dihadiri oleh Kepala Bareskrim Kejaksaan Negeri selaku jaksa penuntut umum, Penyidik ​​Satreskrima Kepolisian Agama dan BKSDA.

Pelepasan satwa Annex I dilakukan di kawasan hutan Suaka Margasatwa Maninjau, Agam, ujarnya.
Dikatakannya, sebelum melepaskan hewan tersebut, dokter hewan melakukan pemeriksaan kesehatan dan dinyatakan sehat.
Tiga ekor kukang yang menjadi barang bukti tindak pidana perdagangan satwa yang dilindungi, dilepas sesuai putusan Pengadilan Negeri Lubukbasung pada 4 Agustus 2022.

Dalam putusannya, majelis hakim memvonis R.S. (50), yang ditangkap oleh kelompok gabungan BCSDA dan Sat Reskrim Polres Agam di Simpang Padang Koto Gadang, Kabupaten Palembayan pada Sabtu (04/09), dengan hukuman penjara selama satu tahun dan denda 50 juta rupee hingga tiga bulan di penjara.
Dari segi barang bukti, tiga ekor kukang disita untuk negara dan diserahkan ke BKSDA Sumbar untuk dikembalikan ke habitatnya.
Sedangkan kukang lainnya diserahkan kepada Ismalini (50), warga Lubukbasung, kepada BKSDA melalui kawasan wisata Maninjau, Jumat (8 Desember).

Kukang ditemukan di rumahnya pada Kamis (8 November) sekitar pukul 19.00 WIB. Setelah itu kukang langsung diamankan, yang selanjutnya dilaporkan ke BKSDA melalui Maninjau Resort,” ujarnya.
Ditambahkannya, pelepasliaran keempat kukang ini membuktikan bahwa kerjasama antar pihak, termasuk masyarakat, dalam upaya pelestarian satwa semakin berkembang dan meningkat.
BKSDA menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pengadilan Negeri Lubukbasung, Kejaksaan Negeri dan Polisi Agama atas upaya penegakan hukum terhadap tindak pidana perdagangan satwa yang dilindungi.
“Kami juga menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada Ismailini yang telah menyelamatkan seekor kukang yang masuk ke rumahnya. Kami berharap tindakannya bisa menjadi contoh bagi orang lain,” ujarnya.
Kukang atau dengan nama latin Nycticebus coucang merupakan salah satu jenis primata yang dilindungi oleh peraturan perundang-undangan di Indonesia. Sedangkan secara internasional status konservasinya terancam punah dan masuk dalam klasifikasi Appendix I yang artinya tidak boleh digunakan untuk perdagangan.
Sedangkan di Indonesia, kukang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/2018 yang melarang siapa pun untuk menjebak, melukai, membunuh, memiliki, menyimpan, menyimpan, mengangkut, dan memperdagangkan satwa yang dilindungi, hidup, mati, atau bagian tubuhnya.
Pelaku kejahatan ini terancam hukuman penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.

Artikel sebelumyaKomisi IV DPR menyambut baik perintah Presiden tentang penghijauan
Artikel berikutnyaKawanan gajah liar menjarah tanaman penduduk Pidi