Beranda Nusantara BKSDA: Ratusan Burung Pipit Bunuh Diduga Makan Makanan Tercemar

BKSDA: Ratusan Burung Pipit Bunuh Diduga Makan Makanan Tercemar

Denpasar (ANTARA) – Seksi 2 BKSDA Bali Sulistio Widodo mengatakan temuan ratusan bangkai burung gereja perlu dibuktikan secara ilmiah, namun ada beberapa kemungkinan salah satunya dengan memakan pakan yang terkontaminasi pestisida.

“Kenapa kematian mendadak harus dibuktikan secara ilmiah melalui otopsi dan kotoran burung. Tapi ada kemungkinan salah satunya memakan pakan yang mengandung herbisida atau pestisida yang bersifat racun bagi unggas,” kata Sulistio Vidodo dalam siaran persnya di Denpasar. , Bali, Jumat.
Setelah makan tentunya burung tersebut tidak langsung mati, karena proses keracunannya juga membutuhkan waktu untuk mencapai tingkat mortalitas (kematian). “Kemungkinan besar saat burung beristirahat di malam hari. Dan di pagi hari bangkai-bangkai itu berserakan. Jadi bukan soal lokasi mereka di makam,” ujarnya.

Kemungkinan kedua adalah terkena penyakit tertentu. Burung pipit hidup dalam koloni besar, sehingga penularan infeksi akan cepat. Sehingga angka kematiannya juga tinggi.

Selain itu, ada kecurigaan bahwa telah terjadi perubahan iklim yang dramatis. Ia mencontohkan koi koi mati di kolam terbuka saat hujan pertama, atau ribuan ikan mati di keramba karena endapan bahan kimia, atau cuaca panas, lalu tiba-tiba turun hujan.
“Misalnya cuaca di Bali panas, saat burung istirahat di malam hari, tiba-tiba hujan deras, suhu dan kelembapan berubah drastis, burung kaget, stres, lalu mati massal. Kematian massal,” katanya.
Sebelumnya, ratusan bangkai burung gereja ditemukan di sekitar makam di Desa Pering, kawasan Blabatukh, Gianyar Bali. Petugas kesehatan hewan mengambil sampel bangkai burung dan kotoran unggas yang dibawa ke laboratorium kesehatan hewan untuk diselidiki penyebab kejadian tersebut.
Tim kemudian mengubur semua bangkai burung untuk meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan.
Berdasarkan kejadian ini, Sulistio mengatakan bahwa ini bukan pertama kalinya di Bali atau pertama di Indonesia. Ia mengatakan, kejadian di Bali selama lima tahun terakhir juga terjadi di Kecamatan Sanglaha Kota Denpasar dan di Selemadeg Kabupaten Tabanan.
“Alasan kematian dalam kelompok mungkin karena burung pipit ini adalah koloni hewan yang hidup dalam kelompok besar. Ukuran burung yang kecil cenderung berkoloni dalam jumlah besar untuk mengurangi resiko terhadap predator,” ujarnya.
Selain itu, burung pipit yang juga merupakan hewan koloni juga berkumpul untuk berlibur. Dia mengatakan bahwa biasanya ada ribuan burung di satu pohon besar *.

Artikel sebelumyaBMKG mengatakan hujan lebat mungkin terjadi di sebagian Sumatera Utara
Artikel berikutnyaMenko Marves buka TPST terbesar di Bali