Beranda Nusantara BKSDA Aceh kirim tim anti gajah ke Bener Meria

BKSDA Aceh kirim tim anti gajah ke Bener Meria

Kepedulian terhadap satwa yang dilindungi dikaitkan dengan berbagai faktor.

Banda Aceh (ANTARA) – Badan Perlindungan Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh telah menurunkan tim untuk mengatasi gangguan kawanan gajah Sumatera (Banda Aceh).gajah sumatera besar), yang dilaporkan merusak taman umum di Kabupaten Bener Méria.

“Kekhawatiran kawanan gajah sudah berlangsung seminggu ini. Tim juga sudah mengambil bentuk penggembalaan satwa dilindungi di kawasan hutan,” kata Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto di Banda Aceh, Selasa.

Sebelumnya diberitakan, sekawanan gajah merusak taman dan rumah warga Desa Negeri Antara dan Blangrakal, Kecamatan Pinto Rine Gaio, Kabupaten Bener Meria, Senin (29/11).

Kerusakan yang dilaporkan akibat gangguan terhadap gajah bersifat kumulatif, menurut Agus Arianto. Karena kawanan gajah sudah seminggu di sini.

Menurut Agus Arianto, tim di lapangan juga melakukan berbagai dribbling dan penghalang atau rintangan untuk melewati kawanan hewan yang dilindungi.

Sebenarnya konflik antara manusia dan gajah di kawasan itu sudah berlangsung lama. Menurut Agus Arianto, pemerintah daerah bersama BKSDA juga telah melakukan berbagai langkah.

“Pihak berwenang setempat merawat para korban, dan kami merawat hewan-hewan. Kekhawatiran terhadap satwa yang dilindungi itu disebabkan oleh berbagai faktor,” kata Agus Arianto.

Menurut IUCN Red List of Threatened Species, gajah sumatera yang hanya hidup di pulau Sumatera tergolong satwa langka dengan risiko kepunahan yang tinggi di alam liar.

BKSDA Aceh menghimbau kepada masyarakat untuk bersama-sama melestarikan alam, khususnya satwa liar gajah sumatera, tanpa merusak hutan yang menjadi habitat berbagai jenis satwa, daripada menjebak, melukai atau membunuh.

Selain itu, ia juga menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperdagangkan satwa yang dilindungi, hidup atau mati, serta tidak memasang perangkap atau racun yang dapat menyebabkan kematian.

“Setiap tindakan terhadap satwa yang dilindungi ini dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” kata Agus Arianto.

Artikel sebelumyaKLHK memulai rehabilitasi DAS Menore dengan penanaman MPTS
Artikel berikutnyaSiklon Nyato dan dua biji siklon diamati di dekat Indonesia.