Beranda Nusantara BIG terbitkan hasil investigasi Sungai Tsiduria yang sering menyebabkan banjir

BIG terbitkan hasil investigasi Sungai Tsiduria yang sering menyebabkan banjir

Sungai mati ini nantinya akan berubah menjadi danau berbentuk tapal kuda.

Cibinong, Bogor (ANTARA) – Badan Informasi Geospasial (BIG) mempublikasikan hasil kajian Sungai Cidurian yang kerap menyebabkan banjir di empat subwilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yakni Cigudeg, Jasinga, Nanggung, dan Sukadjaya.

“Berdasarkan analisis citra satelit secara berkala, ditetapkan adanya perubahan aliran sungai di Desa Kalongsawa, Kabupaten Jasinga pada tahun 2020. Hasil citra temporer tahun 2019 menunjukkan perubahan fluks yang signifikan dari Desember 2019 hingga Agustus 2020,” katanya. Koordinator Pemetaan dan Perubahan Iklim BIG Climate, Ferrari Pinem dalam keterangan tertulis, Rabu.

Menurut dia, kajian yang juga dilakukan melalui pengamatan langsung di lapangan, menunjukkan adanya aliran baru yang terbentuk dari Sungai Tsiduria. Aliran sungai baru tersebut disebabkan oleh bendungan irigasi yang diduga jebol karena tidak mampu menahan derasnya aliran sungai.

Ferrari mengatakan debit sungai awalnya kecil dan meningkat seiring waktu karena sungai tua tidak mengalirkan air akibat proses sedimentasi atau pengendapan yang terus menerus.

Pengendapan yang terus menerus menyebabkan kurva menjadi semakin tajam dan akhirnya terbentuk leher atau hambatan aliran. Leher menghalangi aliran air dan lambat laun sungai akan mati. Sungai mati ini nantinya akan berubah menjadi danau berbentuk tapal kuda atau Danau Oxbow“, kata Ferarri.

Dia menduga, sedimen yang terjadi di kawasan itu disebabkan material longsor yang terbawa aliran sungai dari kawasan hulu. Pasalnya, pada Januari 2020 lalu, terjadi longsor parah di dalam dan sekitar kawasan Sukahaya.

“Kalau kita cari di daerah hulu, seperti Kampung Urug di Sukadjaya, masih banyak sisa material longsor. Material longsor ini kemungkinan besar terbawa aliran sungai dan diendapkan di hilir, terutama di daerah yang kemiringan sungainya sudah berkurang,” ujarnya. dia menjelaskan.

Oleh karena itu, ia menyimpulkan material longsor menjadi salah satu penyebab cepatnya pembentukan sedimen dan aliran sungai baru. Material sedimen akan mempersempit dasar sungai dan menghambat aliran sungai.

Ferrari menjelaskan, perlu dilakukan mitigasi untuk beberapa kawasan pemukiman di Desa Kalongsawa. Menurut dia, ke depan wilayah itu bisa hilang jika tidak ada upaya penguatan mitigasinya.

“Pengerukan sedimen juga bisa dilakukan, terutama di daerah limpasan yang mengalami penyumbatan. Tentunya semua upaya tersebut masih perlu pembahasan lebih lanjut, terutama dari sisi efektivitasnya,” ujar Ferrari.

Seperti diketahui, banjir Kali Tsiduria beberapa kali menyebabkan banjir bandang di empat subwilayah Kabupaten Bogor, yakni Sigudeg, Jasing, Sukadjaya, Nanggung pasca bencana besar yang terjadi di awal tahun 2020.

Banjir bandang terbaru terjadi di empat kelurahan pada Senin malam, 6 September 2021, menyebabkan beberapa jembatan ambruk dan puluhan rumah warga rusak.

Artikel sebelumyaGunung Merapi mengeluarkan lahar panas 10 kali hingga ketinggian 1500 meter
Artikel berikutnyaKapolri Luncurkan Digital Nasional ASAP Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan