Beranda Warganet Anak dengan pertumbuhan terhambat di Banda Aceh mencapai 364

Anak dengan pertumbuhan terhambat di Banda Aceh mencapai 364

Salah satu upaya pencegahan stunting adalah dengan membuka food house di desa-desa.

Banda Aceh (ANTARA) – Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Banda Aceh mencatat jumlah anak yang menderita stunting di ibu kota provinsi Aceh mencapai 364 pada tahun 2021.

“Tahun ini kami hanya mencari data kejadian stunting di Banda Aceh dan akan kami laporkan ke BKKBN provinsi,” kata Ketua DP3AP2KB Banda Aceh Cut Azharida di Banda Aceh, Rabu.

Kat Azharida mengatakan karena pada tahun 2021 pihaknya tidak memiliki anggaran untuk memerangi stunting, sehingga belum bergerak sejauh ini. Namun, lebih kepada melakukan upaya pencegahan dan pendampingan pada 2022 mendatang melalui bantuan provinsi atau pusat.

“Untuk tahun ini kami tidak ada anggaran, mungkin tahun depan ada anggaran dari pusat, sekarang kami hanya mendata gumpong (desa) yang pertumbuhannya terhambat, kami akan turun tangani sampai sejauh mana perlambatannya berkurang. desa ini,” katanya.

Azharida mengatakan, salah satu upaya mereka untuk mencegah stunting adalah dengan membuka food house di desa-desa sehingga nantinya bisa terlihat tingkat stunting di daerah tersebut.

“Untuk katering ada kegiatan kerjasama dengan PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga), ada juga makanan bayi, posyandu dan berbagai kegiatan lainnya,” ujarnya.

Kat Azharida menjelaskan, langkah yang diambil pihaknya untuk mencegah stunting dimulai dalam seribu hari. Saat pembinaan dilakukan mulai dari saat pernikahan, awal pernikahan, dan diakhiri dengan proses menyusui.

DP3AP2KB Banda Aceh memiliki program sosialisasi pranikah dengan pembinaan awal sampai ibu melahirkan bayi untuk menyusui, serta bagaimana memastikan asupan gizi selama kehamilan, kata Kater.

“Dari situ kita pindahkan untuk menghindari stunting. Saat ibu hamil kita beri arahan apa, karena keterlambatan tumbuh kembang dimulai dari kehamilan, gizi buruk saat hamil mempengaruhi terhambatnya pertumbuhan,” kata Kat Azharida.

Berdasarkan data DP3AP2KB Banda Aceh, 364 orang dengan pertumbuhan terhambat berasal dari Puskesmas Kuta Alam yaitu Gampong Beurave, 24 orang.

Kemudian, di kawasan Puskesmas Meuraxa, 19 orang dari Desa Lampaseh Aceh, 11 Surien, 11 orang Desa Baro, 8 Aso Nanggro, 14 Lamjabat dan 16 Desa Blang.

Selain itu, Puskesmas Uli Kareng dari Gampong Seuri memiliki 16 pasien, Doi 16 dan Pango Dea enam pasien. Kemudian, di kawasan Puskesmas Lampaseh terdapat 19 orang dari Kota Gampong Lampaseh, 38 orang dari Gampong Jawa.

Di kawasan Baiturrahman Medical Center, terdapat 23 orang dari Desa Ateuk Munjeng dan 31 pasien dari Peuniti. Kemudian di Puskesmas Lampulo hanya ada 26 orang dari Skep Gampong Lambaro.

Terakhir, di Puskesmas Banda Raya, 22 orang berasal dari kompleks Kycheu, Kycheu Kayi Jato 10, Lam Ara 12, Long Raya 14, Peunye 13 dan 15 pasien dari desa Lamlagang.

Artikel sebelumyaPenerima Bakti Sosial Satyalancana Diperluas Untuk Pejuang COVID
Artikel berikutnyaKelompok Sasaran: Aceh Singkil dan Aceh Tengah, Zona Merah COVID-19